Bangun Jakarta

Jakarta Selatan - DKI Jakarta

Bangun Jakarta

Latar Belakang

DKI Jakarta memiliki 12,7 juta orang pada siang hari dan 9,9 juta orang pada malam hari yang membutuhkan makanan setiap hari untuk dikonsumsi. Namun kenyataannya daya dukung kota belum mampu memenuhinya. Sampai saat ini juga pemerintah Indonesia masih mengimpor sebanyak 29 bahan pangan dan membuat harga pangan yang ada di pasar fluktuatif dan seringkali tak tentu.

Ketidakcukupan pasokan pangan domestik membuat Indonesia harus terus mengimpor, seringkali sampai terjadi kelangkaan, dan karena terjadinya kelangkaan pangan inilah pemerintah seringkali harus mengimpor bahan pangan hal ini di sampaikan oleh Menteri Desa dan Daerah Tertinggal Marwan Jafar seperti yang dikutip oleh liputan 6.com. Kenaikan Harga Yang Signifikan Pada Varietas Cabai Merah Besar yang mencapai 20% membuktikan bahwa harga seketika dapat meroket dan memberatkan masyarakat.

Target

Food Oriented Development merupakan konsep pembangunan perkotaan yang mampu menjadikan kota sebagai penyedia pangan bagi warganya secara berkelanjutan. Konsep tersebut mempertimbangkan aspek ketahanan pangan selain juga mempertimbangkan sosial ekonomi dalam pembangunan fisik perkotaan. Urban farming telah terbukti berhasil di negara-negara maju yang bahkan lahan pertaniannya lebih sedikit dari Indonesia.

Contohnya adalah Kanada dan Inggris yang telah menyisipkan mengenai urban farming di dalam peraturan dan perencanaan ruang kotanya Keberhasilan tersebut bermula dari krisis ekonomi yang menyebabkan kesulitan pangan. Sehingga pada masa itu timbul inovasi untuk mengembangkan pertanian di kawasan perkotaan.

Kepala Dinas Kelautan, Agrikultur dan Ketahanan Pangan Provinsi DKI Jakarta menyatakan dalam wawancara di Beritajakarta.com bahwa meskipun lahan yang tersedia sempit, namun pengembangan urban agriculture tetap harus diprioritaskan.

Adapun mengingat lahan yang tidak besar di daerah perkotaan, banyak metode baru yang dikembangkan agar proses urban farming tidak perlu memakan lahan ataupun bidang tanah yang besar. Munculnya metode penanaman seperti hidroponik (dengan medium air) dan juga vertikultur (dengan medium bidang vertikal) memberikan sebuah kemungkinan baru yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kota untuk melakukan urban farming

Goal

Pilot project turun tangan berkebun akan dilaksanakan di rumah relawan turun tangan, tepatnya di jalan AUP Barat 2 No. 24. Pilot project ini akan menggunakan lahan pekarangan kantor dengan luas ± 300 M².

Lahan yang tersedia akan dimanfaatkan sebagai media tanam percontohan untuk tanaman sayur dengan teknik hidroponik, vertikultur, dan pengolahan kompos. Proses pemanfaatan lahan akan di kelola oleh relawan pengelola, dan nantinya akan dijadikan bahan workshop untuk relawan-relawan yang bersedia bergabung dan mengaplikasikan di lingkungan tempat tinggalnya.

Untuk tahap awal, kami telah melakukan survey pasar mengenai kebutuhan sayuran pada warungwarung makan yang ada di RW 06. Harapnnya dengan mengetahui tingkat kebutuhan sayuran warung makan (warteg), kami mampu memenuhi kebutuhan harian/mingguan dari warung makan tersebut.

Berdasarkan hasil survey, sayuran yang paling banyak dibutuhkan adalah kangkung, kol, sawi, bayam, dan terong. Oleh karena itu pada tahap pilot project ini kami akan menanam sayuran tersebut. Selama pelaksanaan pilot project, kami juga akan mulai melakukan recruitment relawan. Tujuannya adalah agar mereka yang terpilih mampu mengikuti proses pembuatan kebun hidroponik. Sehingga mereka memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai proses persiapan hingga panen dan pemasaran.

Selain melibatkan relawan, Kami juga akan mengajak warga yang ada di sekitar RW 06 Kelurahan Jati Padang untuk menjadi peserta workshop Turun Tangan Berkebun. Tujuannya adalah untuk menjadi sharing partner bagi pengelola dan relawan. Sehingga nantinya kami dapat belajar secara langsung mengenai bentuk pendekatan ke warga dan pengelolaannya.

Pilot project ini telah berlangsung selama 3 bulan, yaitu dari masa pembibitan hingga masa panen dari sayuran yang di tanam.

Strategi

Bangun Jakarta adalah sebuah upaya untuk mengajak relawan menjadi seorang penggerak urban agrikultur di lingkungan tempat tinggalnya. Inisiatif ini berawal dari gagasan Gerakan Muda Membangun yang mulai digerakkan awal tahun 2015 yang lalu. Dalam gerakan tersebut terpilih 66 anak muda dari 560 orang yang tersebar di 15 Kota yang ada di Indonesia. Selama setahun mengelola gerakantersebut kami menemukan beberapa kelemahan dalam pengelolaan sebuah gerakan. Dari pengalaman pengelolaan tersebut akhirnya Gerakan Muda Membangun memutuskan untuk memulai pilot project di Kota Jakarta dengan fokus masalah pada ketersediaan lahan bercocok tanam yang semakin terbatas.

Bangun Jakarta adalah sebuah inisiatif yang akan mendorong warga Jakarta untuk mengembangkan perkebunan mandiri di perumahan masing-masing yang dikelola secara berkelompok. Dalam proses pengembangannya turun tangan akan melakukan rekrutmen relawan yang bersedia untuk menggerakkan warga untuk bercocok tanam sayuran di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Program ini diharapkan dapat mendorong warga untuk memenuhi kebutuhan sayurannya secara mandiri, terbentuknya kegiatan komunal di tengah-tengah masyarakat perkotaan, serta masyarakat mampu menghasilkan produk-produk organik secara mandiri.

Timeline

Bulan 0 - 4
Menyiapkan media tanam
Melakukan Recruitment 15 orang relawan & 15 Warga untuk Batch 1
Pembuatan Modul Turun Tangan Berkebun

Bulan 5 - 9
Community Development di Lingkungan Tempat Tinggal relawan
Melakukan kerjasama dengan platform online (misalnya kecipir dan limakilo)

Bulan 9 -12
Monetizing Perkebunan milik relawan
Melakukan evalusi project.
Melakukan persiapan replikasi di kota lainnya.


Info & Bantuan?

Silahkan menghubungi melalui SMS: 082114274252 atau email ke relawan@turuntangan.org.

67 Relawan

Tentang Gerakan

Lokasi: Jakarta Selatan - DKI Jakarta

Project Manager: Ajeng Martha Tiara

Keywords: Urban Farming, Lingkungan, Ekonomi.

Kebutuhan Relawan: 20 orang

Project Manager